Rabu, 28 November 2012

SUMPAH PEMUDA

Sumpah Pemuda adalah bukti otentik bahwa tanggal 28 Oktober 1928 bangsa Indonesia dilahirkan. Oleh karena itu sudah seharusnya segenap rakyat Indonesia memperingati momentum 28 Oktober sebagai hari lahirnya bangsa Indonesia. Proses kelahiran Bangsa Indonesia ini merupakan buah dari perjuangan rakyat yang selama ratusan tahun tertindas dibawah kekuasaan kaum kolonialis pada saat itu, kondisi ketertindasan inilah yang kemudian mendorong para pemuda pada saat itu untuk membulatkan tekad demi mengangkat harkat dan martabat hidup orang Indonesia asli, tekad inilah yang menjadi komitmen perjuangan rakyat Indonesia hingga berhasil mencapai kemerdekaannya 17 tahun kemudian yaitu pada 17 Agustus 1945.
Sumpah Pemuda versi orisinal :
Pertama
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kedoewa
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Ketiga
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Rumusan Kongres Sumpah Pemuda ditulis Moehammad Yamin pada secarik kertas yang disodorkan kepada Soegondo ketika Mr. Sunario tengah berpidato pada sesi terakhir kongres (sebagai utusan kepanduan) sambil berbisik kepada Soegondo: Ik heb een eleganter formulering voor de resolutie (Saya mempunyai suatu formulasi yang lebih elegan untuk keputusan Kongres ini), yang kemudian Soegondo membubuhi paraf setuju pada secarik kertas tersebut, kemudian diteruskan kepada yang lain untuk paraf setuju juga.  Sumpah tersebut awalnya dibacakan oleh Soegondo dan kemudian dijelaskan panjang-lebar oleh Yamin.

Belajar dari Sumpah Pemuda, ada catatan sejarah yang sangat berharga di dalamnya. Butir-butir dalam Sumpah Pemuda itu tidak hanya semata-mata disusun untuk menjadi hasil yang membantu kaum muda menjawab kebutuhan kemerdekaan dari penjajahan saat itu. Melainkan lebih dari itu, Sumpah Pemuda telah menjadi spirit yang terus terpatri dalam hati sanubari para pemuda itu. Suatu spirit yang dibangun atas dasar kesamaan nasib dan cita-cita. Yang kemudian dibungkus dengan komitmen untuk senasib sepenanggungan sebagai satu bangsa, satu tanah air yang pertama-tama ditandai dengan disepakatinya bahasa universal antar bangsa, bahasa Indonesia.
Dari catatan sejarah inilah kita seharusnya lebih memahami dasar fundamental berdirinya bangsa Indonesia. Suatu bangsa yang dibangun di atas dasar sebuah keinginan yang kuat. Segenap bangsa saat itu telah memutuskan untuk bersama-sama dan bekerjasama dalam menghadapi tantangan-tantangan ke depan dengan tanpa ada batasan waktu tertentu. Itulah Indonesia yang autentik. Yang masyarakatnya memeliki pandangan lurus ke arah cita-cita bangsa-bangsa yang mengahargai dan berkomitmen menjaga persatuan dalam perbedaan. Karena semua itu diletakan pada kesadaran penuh bahwa pada dasarnya perbedaan latar belakang agama, budaya, ras, golongan bukanlah suatu penghalang dalam mencapai sebuah persatuan cita-cita yang didasarkan pada penghargaan terhadap kemanusiaan.
Sampai saat ini pun, setelah 84 tahun diikrarkanya Sumpah Pemuda, semangat dan maknanya semakin pudar ditelan zaman. Cita-cita ke-Indonesia-an hanyalah sebatas formalitas belaka dalam poin-poin dan pasal-pasal yang kehilangan roh. Kenyataan membuktikan bahwa tidak hanya komitmen berbangsa senasib-sepenanggungan yang diingkari. Lebih dari itu, sesama masyarakat bangsa Indonesia bahkan sampai saling mengorbankan satu dengan yang lain demi kepentingan masing-masing. Lalu dimanakah semangat satu bangsa itu? Dimanakah semangat satu tanah air itu? Dimanakah semangat satu bahasa yang menjadi bukti nyata tanda persatuan itu?
Memang ya, ada sesuatu yang hilang dari bangsa ini. Sesuatu yang sangat mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Jika kemudian kenyataan-kenyataan pengingkaran terhadap semangat dasar bangsa Indonesia itu terus bertumbuh subur, maka cepat atau lambat kita harus berani berkata bahwa bangsa dan negara yang kita tinggali saat ini bukanlah bangsa dan negara Indonesia yang sebenarnya kita maksudkan. Karena bangsa dan negara Indonesia adalah sebuah bangsa yang dilandasi semangat senasib-sepenanggungan di antara semua masyarakatnya tanpa terkecuali. Sehingga setiap tantangan dan masalah seharusnya adalah tantangan dan masalah bersama yang semestinya dipecahkan secara bersama-sama pula. Tanpa melukai satu sama lain. Apalagi dengan motif kepentingan individu atau golongan tertentu.
Akhirnya, marilah berefleksi tentang landasan persatuan yang membentuk bangsa Indonesia kita yang tercinta ini lewat makna dan amanat Sumpah Pemuda.

http://id.wikipedia.org/wiki/Sumpah_Pemuda

Tidak ada komentar:

Posting Komentar